
Kerusakan Lingkungan Sungai
sampah bertebaran? Apa tidak ada dinas kebersihan yang mengatasi hal tersebut? Banyak orang seringkali tidak sadar bahwa membuang sampah tak terurai, seperti plastik, dapat menyebabkan banyak musibah. Malah seringkali menyalahkan orang lain dari pada melakukan refleksi diri.Sampah tak terurai, Plastik. Yah, sampah plastiklah yang paling sering ditemukan di selemparan sungai di Jakarta. Apakah kesan yang ditimbulkan ketika melihat keadaan seperti itu? Air di sungai menjadi hitam, kotor, bau, banyak sampah tak terurai atau sampah berat, dan oleh karenanya menjadi tidak sedap untuk dipandang. Sudah habis sampai di situ. Sialnya aspek terhadap ekosistem kurang diperhatikan yaitu dampak buruk yang dapat ditimbulkan. Cobalah tengok pinggiran sungai di Jakarta mulai terjadi suksesi kecil seperti tumbuhnya lumut yang dapat mengakibatkan daratan baru. Hal ini dapat diperhatikan bahwa lumut bersifat padat yang dapat menambung benda disekitarnya. Apa yang dapat ditampung oleh lumut? Yang paling kelihatan adalah bahwa lumut padat dapat membuat sampah ringan menjadi tersangkut, tapi dalam hal ini dapat diambil tindakan dengan membersihkan sampah yang tersangkut tersebut, tapi sumber lumutnya tidak diangkat. Perhatian orang dalam hal ini adalah sampah yang tersangkut, bukan lumutnya. Efek lumut itu pelan tapi pasti, apa yang saya maksud? Sebelum itu cobalah kita terka berapa banyak debu dan polusi berat yang dihasilkan oleh city traffic? Sangat banyak kan? Tapi tidak kelihatan. Nah inilah yang ditampung oleh lumut dikit demi sedikit menjadi bukit. Pantas saja seketika waktu kita lihat kok air sungai terus naik. Tumpuk terus sampai akhirnya lumut mengakar dalam sela-sela beton pinggiran sungai dan menghancurkan secara bertahap. Dampak yang timbul dapat diprediksikan seperti, rusaknya beton yang menahan air ke daratan, timbul erosi kecil, dari erosi kecil yang bertahap dapat mengakibatkan daratan seolah-olah setara dengan permukaan sungai, lalu ketika hujan maka muncullah banjir.
Dari uraian di atas dapat kita lihat bahwa pendekatan lingkungan yang harus dilakukan adalah secara sistemik. Hal ini memungkinkan kita untuk berpikir lebih dalam lagi dengan mengaitkan hal satu dengan hal yang lain. Kita tidak bisa menyalahkan bahwa sungai yang mudah meluap disebabkan hanya oleh tumpukan sampah di pintu air sungai, tetapi juga lumut dan debu. Memang ini sebuah hipotesis namun cukup rasional untuk dipertimbangkan. Secara awam seolah-olah tidak ada hubungannya antara debu dan polusi kendaraan terhadap tingginya permukaan sungai, tapi coba anda pikir kembali setelah membaca tulisan ini. Perhatian orang selalu tertuju pada hal-hal besar dan efeknya langsung misalnya pemanasan global atau banjir, tetapi penyebab yang biasanya kecil-kecil kurang diperhatikan, inilah kelebihan pendekatan sistemik terhadap lingkungan, semua hal harus diperhatikan entah seberapa kecilnya itu termasuk plankton di laut.